Daftar Isi

Minggu, 19 Mei 2013

0 Mimpi Harapanku

Date: Minggu, 19 Mei 2013 13.07
Category:
Author: Bayuardi Pratama
Share:
Responds: 0 Comment


        “Subhanallah Tama, kamu cocok sekali pakai baju itu. Cakepnya anak Ibu !!” ucap Ibuku sembari melihat ku merapikan baju di depan cermin.
        “hehehe pas nggak bu bajunya ?”
        “pas banget, Ibu sempat pangling tadi, kirain artis darimana gitu.” ucap Ibu seakan menghiburku.
        “yaudah bu ayo kita berangkat, ntar telat lagi !”
        “iya ayo, masak dandanan rapi gini datangnya telat, kan malu !”
        “haha Ibu tuh yang kerapian, aku mah biasa aja !” ucapku sembari mengambil kunci motor. Kami pun segera berangkat menuju tempat dimana aku menuntut ilmu. Ya, hari ini adalah hari dimana pihak sekolah akan menjatuhkan vonis kepadaku, lulus atau tidak lulus??
        Ada satu hal yang mebuatku sedikit aneh, baju. Dengan setelan kemeja putih lengan panjang plus celana panjang warna hitam terlihat seperti pelayan restaurant. Tapi hal itu tertutupi karna adanya dasi hitam yang wajib dikenakan, sekarang malah nampak seperti pelamar pekerjaan. Tapi tak apalah, mungkin hal ini untuk menghindari aksi corat-coret baju seragam saat merayakan kelulusan.
        Entah kenapa hari ini terlihat spesial dimataku. Langit cerah dan Ibuku yang tampak sangat ceria seolah menjadi prolog kisahku hari ini. “Bismillah, semoga jadi awal pertanda baik dan hari ini berjalan lancar. Aamiin !” gumam batinku lirih.
        Tak terasa kami sudah sampai di sekolah, cukup banyak juga yang sudah datang. langsung saja kucari tempat parkir yang nyaman untuk motorku ini. Kami pun langsung menuju Aula Sekolah tempat acaranya dilaksanakan setelah memarkir motorku itu.
        Sekitar jam 09.15 acara dimulai, padahal dalam undangan jelas-jelas tertulis acaranya dimulai pukul 09.00. hah namanya juga Indonesia, terkenal akan jam karetnya. Perlahan tapi pasti, acara demi acara yang bagiku itu membosankan terlewati, hingga akhirnya tiba saat penyerahan amplop yang berisi keterangan ‘lulus atau tidak lulus’.
        Sebenarnya aku ingin sekali membuka amplop itu terlebih dahulu, tapi Ibuku memaksa dia yang akan membukanya lebih dulu. Dag dig dug begitu terasa detak jantungku melihat tangan Ibu membuka amplop itu, lalu perlahan menarik kertas didalamnya, matanya bergerak dari kiri ke kanan membaca tulisan yang ada didalamnya. Ibu lalu menatapku dalam-dalam, menunjukkan ekspresinya yang seakan sedih, kecewa. Nampak matanya berkaca-kaca saat itu. Ia lalu memelukku, menciumku, dan perlahan terisak tanpa berkata apa-apa. YaAllah apa ini? sikap Ibuku membuatku semakin penasaran. Bergegas kulepas pelukan Ibu dan kurebut amplop itu darinya. Kubaca perlahan tulisan didalamnya. Terlihat satu kata dengan huruf kapital tertulis ‘LULUS’, ku kucek-kucek mataku lalu kubaca sekali lagi agar aku yakin. Ya Tuhan ternyata benar, tertulis ‘LULUS’. Tak tahu apa yang harus ku lakukan, tak tahu apa yag harus ku katakan, semua tak bisa ku ungkapkan. Sekali lagi Ibu memelukku, ia masih tetap menangis namun sembari berucap “Selamat nak, kamu lulus. Ibu bangga sama kamu !”. Spontan kubalas pelukan Ibuku, sangat erat aku memeluknya. Tak terasa airmataku jatuh saat itu, entah kenapa tapi mungkin inilah ekspresi kebahagiaanku.
        Cukup lama aku tak lepas dari pelukan Ibuku, aku menunggu sampai airmata ini berhenti mengalir, malu nanti kalau dilihat teman-teman. Kulihat sekelilingku, tenyata kebanyakan juga sama seperti apa yang kulakukan tadi, memeluk orangtuanya sambil terisak lirih. Mereka terlihat sangat bahagia. Akupun menghampiri salah satu temanku.
        “Ryan, gimana ??” ucapku setelah ada di samping Ryan.
        “LULUS Tam gue lulus, nih loe liat, luluskan ? hahaha..loe sindiri gimana ??” kata Ryan sembari merangkulku, Ryan sudah sangat akrab denganku, kita sudah berteman sejak kecil.
        “hahaha syukurdeh, gue juga lulus Alhamdulillah, nih loe liat sendiri kalo nggak percaya !” kata ku sambil menyodorkan kertas dalam amplop punyaku.
        “haha percaya gue, secara loe kan pinter. Traktir gue makan berarti !!”
        “kenapa nggak loe aja yang nraktir gue, mumpung gue laper nih haha”
        “hahaha emang gue boss loe !!”
        “Alif, gimana ? luluskan ??” terdengar suara lembut mengagetkanku, aku hafal dengan suara ini, entah sejak kapan dia ada didekat ku dan Ryan.
        “Eh Meyza, ahh iya ehm lulus, nih ! kamu sendiri ??” jawabku agak tergagap.
        “Alhamdulillah lulus juga, yang lain gimana ?”
        “engga tahu, coba deh tanyain”
        Tanpa diminta teman-temanku yang lain perlahan berkumpul disekitar aku, Ryan, dan Meyza. Mendadak suasana menjadi ramai, dengan bebas kami mengekspresikan kebahagiaan kami. Di tengah ramainya suasana saat itu, mendadak aku tercenung sendiri. Aku teringat satu buah lagu milik Band Lovarian – Perpisahan Termanis.

Jadikan ini perpisahan yang termanis
Yang indah dalam hidupmu
Sepanjang waktu
Semua berakhir tanpa dendam dalam hati
Maafkan semua salahku
Yang mungkin menyakitimu

        Terlintas dalam benak kenangan-kenangan bersama teman-teman. Begitu banyak yang telah kami ukir bersama selama ini, kami pernah merasa sedih, kecewa, galau, tapi kami obati itu semua dengan kebersamaan kami. Sungguh betapa indahnya masa-masa ini. Terasa sangat menyenangkan saat bersama mereka.
        “Alif kamu kenapa ? kok melamun ??” tanya Meyza mengagetkanku.
        “ehh engga, ehm ehm aku mendadak keinget lagunya Lovarian yang Perpisahan Termanis. Rasanya pas banget sama moment ini.” Jawabku sekenanya.
        “hemh iya ya, kalo dipiki-pikir bener juga.” Jawab Meyza yang kemudian tersenyum padaku.

Jadikan ini perpisahan yang termanis

        Tiba-tiba terdengar suara lembut Meyza perlahan menyanyikan lagu itu. Entah apa maksud dia menyanyikannya, tapi tanpa sadar aku pun mengikutinya.

Yang indah dalam hidupmu
Sepanjang waktu

        Lambat laun teman-temanku yang lain pun ikut menyanyikannya. Kini suasana menjadi ramai karena kami bernyanyi sesuka kami. Terdengar kompak tapi tak beraturan.

Semua berakhir tanpa dendam dalam hati
Maafkan semua salahku
Yang mungkin menyaitimu

        Kami terus menyanyikannya. Mulai terlihat beberapa teman wanita yang sedikit terisak, mungkin mereka terbawa suasana. Nampak juga pipi putih Meyza yang sudah basah oleh air matanya, aku sendiri berusaha sekuat tenaga menahan agar aku tak menangis. Berulang-ulang kami menyanyikan lagu itu sampai akhirnya pihak panitia meminta kami tenang karena acara akan segera dilanjutkan.
        Tepat pukul 12.00 siang acaranya selesai, kami semua bergegas meninggalkan ruangan tersebut. Aku dan Ibuku berjalan santai menuju tempat parkir karena rencananya kami akan langsung pulang. Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku.
        “Alif Yuditama !!”
        Spontan aku menoleh kearah suara itu, dan ternyata Ibu Indah yang memanggilku, Sang Guru Matematika favoritku. Aku kemudian menghampirinya lalu bersalaman dan kucium tangannya dengan takzub.
        “Selamat ya Alif, kamu lulus.” ucap Bu Indah kemudian.
        “Iya bu terimakasih, berkat doa Ibu juga saya bisa lulus. Terimakasih juga buat bimbingan Ibu selama ini, Ibu selalu mengajari saya dengan sabar. Terimakasih Bu !”
        “Iya sama-sama, Ibu senang kamu lulus. kamu salah satu murid favorit Ibu, Ibu bangga sama kamu Alif.”
        “Sekali lagi terimakasih Bu !”
        Bu Indah lalu bersalaman dan cipika-cipiki dengan Ibuku, mereka lalu mengobrol sembari kami berjalan...................................................................................................................................................................................................................................................
        “Kak Kakak bangun Kak, Kak Tama bangun dong, udah Subuh nih !” ucap adikku sembari menggoncang-goncangkan tubuhku yang masih nyaman di atas tempat tidur.
        “Kak bangun dong, hari ini kan hari kelulusan Kakak, Kakak lupa ya ?” kata Zafa berusaha membangunkanku lagi.
        Dengan terpaksa akupun membuka mata, terlihat langit-langit putih yang sangat aku kenali. Dan juga aroma obat menyengat yang sangat khas. Ahh iya aku masih di rumah sakit. Kakiku pun masih terasa sakit saat berusaha ku gerakkan.
“Astaghfirullah, iya benar hari ini kelulusanku. Berarti tadi barusan itu mimpi ? itu mimpi ?? YaAllah Maha Besar Engkau, begitu terasa nyatanya mimpiku tadi.” Ucap batinku lirih setelah menyadarinya.
“Ayo Kak bangun, Kakak Sholat Subuh dulu !” kata Zafa kemudian.
“Iya iya bentar, Zafa udah Sholat ?” tanyaku kemudian.
“udah dong, Zafa kan rajin ! nggak kalah sama Kak Tama” ucap Zafa menggemaskan.
Aku tersenyum lalu mengusap-usap kepalanya dengan manja. Lalu segera bertayamum dan Sholat Subuh diatas tempat tidur dengan posisi duduk. Dalam akhir Sholatku aku tercenung, aku teringat akan mimpiku tadi malam.
“YaAllah Yang Maha membolak-balikkan hati manusia, apa arti mimpi hamba barusan ? apa hanya untuk kembang tidur ?? YaAllah semoga apa yang terjadi dalam mimpiku merupakan pertanda baik dan merupakan satu bagian dari kisahku hari ini, aamiin aamiin yarobbal’alamiin.”

Artikel Terkait :



PENTING !! PLEASE READ !!

Creatif By : Bayuardi Pratama Berbagi Dengan Ikhlas

Terimah Kasih telah membaca artikel Mimpi Harapanku. Yang ditulis oleh Bayuardi Pratama. Pada hariMinggu, 19 Mei 2013. Jika anda ingin sebarluaskan artikel ini, mohon sertakan sumber link asli. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar. No Spam, No Rasis, No Anarkis, No Porn. Terimakasih

:: Get this widget ! ::

Kode Smiley Untuk Komentar


:a :b :c :d :e :f :g :h :i :j :k :l :m :n :o :p :q :r :s :t

Poskan Komentar